Jumat, 02 Oktober 2026

MACAM- MACAM INTERAKSI SOSIAL (IPS KELAS 8 SEMESTER GANJIL ) (edisi revisi )

GAMBAR BAGAN 


 

C. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (hal. 47 – 50) IPS KELAS 8 SEMESTER GANJIL (Revisi )


 Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan data BPS pada pertengahan tahun 2023 sebesar 278,7 juta jiwa.

     Sumber daya manusia yang berkualitas menjadi kunci penting untuk mengelola sumber daya yang dimiliki bangsa Indonesia.

1.    1. Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia (hal. 47)

Kualitas SDM dapat dilihat pada tingkat pendidikan angkatan kerja

·         Tamatan SMA/sederajat dengan persentase     30,22%.

·         Tamatan SD/sederajat dengan capaian              24,62%.

·         Jenjang sekolah SMP/sederajat sebanyak         22,74%.

·         Perguruan tinggi proporsinya hanya                 10,15%

(Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023)

Secara global, kualitas sumber daya manusia dapat dinilai dengan menggunakan kriteria Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yang dikembangkan oleh United Nation Development Programme (UNDP), sebuah organisasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

IPM mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup, yaitu : (HAL. 48)

·         umur panjang dan sehat,

·         pengetahuan,

·         kehidupan yang layak

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia :

No.

Tahun

%

Peningkatan %

1

2022

73,77

 

2

2023

74, 39

0,84 (0,62 poin)

 

 Selama 2020–2023, IPM Indonesia rata-rata meningkat sebesar 0,72 persen per 
tahun.

2. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia (hal. 49) 

Beberapa hal yang harus menjadi prioritas utama dalam pembangunan  kualitas SDM, a.l :

·         Sistem pendidikan yang baik dan bermutu.

·         Penguatan peran agama

·         Peningkatan kapasitas SDM melalui berbagai diklat, kompetensi, pembinaan, dan lain-lain

·         Pembinaan dan pengembangan masyarakat terutama generasi muda.

·         Kepatuhan pada nilai-nilai dasar kehidupan.

 





Rabu, 23 September 2026

Bab 2 Penerapan Nilai-Nilai Pancasila (Pendidikan Pancasila Kelas 8 Semester Ganjil, Edisi Revisi , Halaman 39 s.d. 55 )

 


Keteladanan Tokoh Pendiri Negara dalam Kelahiran, Perumusan, dan Penetapan Pancasila sebagai Dasar Negara .

No.

Nama Tokoh

Peranan

Halaman

1

Ir. Sukarno

ketua PPKI yang memimpin pelaksanaan sidang pada tanggal 18 Agustus 1945 dan menetapkan Undang-Undang Negara Republik Indonesia yang dalam Pembukaan terdapat pula rumusan Pancasila sebagai dasar negara.

41

2

Drs. Mohammad Hatta

sebagai wakil ketua PPKI telah berjuang mengusahakan beberapa perubahan dasar negara yang terdapat dalam Piagam Jakarta, khususnya sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” dengan harapan agar seluruh bangsa Indonesia tetap bersatu dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia

41


A.                  Makna sila-sila Pancasila. (hal.44 s.d. 55 )

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

·         Merupakan hubungan individu dengan hal yang dianggapnya memiliki kekuatan yang mulia, suci, agung, dan sakral (hal. 44)

·         Bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang saling menghargai perbedaan keyakinan (hal. 45)


CONTOH : dibuktikan dengan adanya enam agama yang diakui negara Indonesia, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu serta kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (44)


2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

·         Merupakan hakikat sifat manusia yang memiliki akal, budi, pikir, rasa, karsa, keimanan, dan keyakinan sebagai makhluk yang mempunyai derajat martabat yang tinggi sehingga tindakan dan keputusannya dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara didasarkan pada tata nilai yang berlaku. (hal. 48)

·         bahwa negara dan seluruh bangsa Indonesia harus memuliakan martabat sesama manusia yang didasari oleh nilai kemanusiaan sebagai prinsip dalam pergaulan sehari-hari. (hal. 47-48

CONTOH : memunculkan sikap saling menghargai, peduli, menghormati, dan nondiskriminasi terhadap hak dan kewajiban setiap orang (48)


3. Persatuan Indonesia

·         menjadi landasan bangsa Indonesia untuk mempersatukan rakyat da lam bingkai keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan. (hal. 49)

·         enjadi hal utama yang perlu diwujudkan dalam keseharian sebagai usaha mewujudkan cita-cita bersama bangsa Indonesia, yaitu kehidupan yang adil dan makmur. (hal. 49)

CONTOH : mencintai tanah air, mencintai keberagaman budaya dan seluruh suku bangsa, kepedulian terhadap kelestarian budaya dan lingkungan alam (hal.49)


4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

·         bermakna bahwa sistem pemerintahan dalam penyelenggaraan negara harus sesuai hakikat rakyat.(hal. 51)

·         Pelaksanaan demokrasi Pancasila memungkinkan siapa pun yang memenuhi persyaratan dapat menjadi pemimpin di Indonesia melalui prosedur yang telah ditentukan (hal. 51)

·         CONTOH : memilih ketua kelas (hal. 52)


Ke  5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

·         Bahwa seluruh aspek kehidupan masyarakat harus selalu memperhatikan, mempertimbangkan, dan memperlakukan manusia berdasarkan hak dan kewajiban yang dimilikinya sebagai warga negara Indonesia 

CONTOH :- ikut serta dalam kegiatan gotong royong. - berani bersikap adil dan menolong orang yang lemah





2. Kondisi Geografis yang Memengaruhi Keragaman Budaya (IPS Kelas 8 Semester Ganjil ) Edisi Revisi (halaman 40 s.d. 46)


Lingkungan fisik akan memengaruhi keragaman budaya.

Perbedaan topografi, iklim, dan ketersediaan sumber daya alam antar wilayah menciptakan kondisi yang unik bagi masyarakat untuk beradaptasi dan berkembang : (hal. 40-41)

a.  Pesisir/Rawa/Dataran Rendah yang panas

No.

Budaya

Bentuk  adaptasi

1

Cara Berpakaian

·         Bahan tipis

·         Mudah menyerap keringat

2

Bentuk Rumah

·         Bentuk Rumah Panggung dengan tiang tinggi

·         Agar terhindar dari banjir

3

Mata Pencaharian

·         Nelayan dan pedagang

4

Motif batik( Nusantara)

(hal. 40)

·         cenderung berhubungan dengan laut

·         banyak mendapat pengaruh dari berbagai kebudayaan.

 


b. Pegunungan/Subur/Dataran Tingi yang dingin

No.

Budaya

Keterangan

1

Cara Berpakaian

·         Bahan Tebal

·         Memberi rasa hangat

2

Bentuk Rumah

·         Bangunan yang kokoh

·         Atap yang curam

·         Dan terbuat dari jerami

3

Mata Pencaharian

·         Petani dan beternak

4

Motif batik pegunungan

·         terinspirasi dengan alam dan flora fauna setempat, contoh sekitar Banyumas dan Pekalongan (hal. 40-41)

 

Faktor lain yang memengaruhi keberagaman budaya di Indonesia di antaranya faktor geografis, seperti 

* isolasi geografis, 

* kondisi iklim, dan 

* letak geografis. ( hal. 43-44) :

     Interaksi antar masyarakat yang berasal dari berbagai penjuru dunia dan penduduk di wilayah Nusantara pada masa lalu memberikan pengaruh besar terhadap kebudayaan.

(hal. 45)

     Jumlah penduduk dan luas wilayah akan memengaruhi keberagaman budaya (hl. 45)

     Penjajahan, perang, dan globalisasi telah menyebabkan para pendatang menetap di daerah baru dan berinteraksi dengan penduduk setempat. Akibatnya, terbentuk komunitas masyarakat yang dipengaruhi oleh beberapa budaya. (hal. 45)

Bangsa Indonesia sebagai bangsa majemuk dan multikultur terdiri atas berbagai macam kebudayaan.

Keragaman budaya merupakan kekayaan bangsa yang perlu kita lestarikan. Pelestarian budaya perlu dilakukan untuk kepentingan generasi penerus bangsa agar tidak kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.




Selasa, 01 September 2026

B. KONDISI GEOGRAFIS MEMENGARUHI KERAGAMAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT (IPS KELAS 8 SEMESTER GANJIL)

 


    1. Keragaman Sosial Budaya di Masyarakat (hal. 37-39)

            * Pengertian Kebudayan

1)      Tokoh antropologi Indonesia, Koentjaraningrat, berpendapat bahwa “kebudayaan” berasal dari bahasa Sanskerta, buddhayah

Kata buddhayah merupakan bentuk jamak dari buddhi  yang berarti budi atau akal.

Dengan demikian, arti dari kebudayaan ialah hal-hal yang berhubungan dengan budi dan akal

2)      Notonagoro berpendapat bahwa kebudayaan sebagai suatu perkembangan dari majemuk budi dan daya yang artinya daya dari budi atau kekuatan dari akal.

 

Tujuh unsur kebudayaan (hal. 37 s.d. 39 )

No.

Unsur Kebudayaan

Keterangan

1

Sistem Bahasa

 dapat berbeda berdasarkan wilayah geograࢆs, kelompok etnis, atau agama

Indonesia memiliki  718 (Badan Bahasa, Kemendikdasmen RI)

2

Sistem Pengetahuan

Sistem pengetahuan bersifat abstrak dan berwujud di dalam ide manusia semisal astronomi tradisional (sistem pranoto mangsa (jawa)

Nelayan Bugis (Makassar) menggunakan Bintang Tujuh (Pleides) dan Bintang Timur (Venus) untuk panduan berlayar

3

Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosia

Tiap kelompok masyarakat kehidupannya diatur oleh adat istiadat dan aturan-aturan mengenai berbagai macam kesatuan di dalam lingkungan di mana dia hidup dan bergaul dari hari ke hari.

esatuan sosial yang paling dekat dan dasar ialah kerabatnya, yaitu keluarga inti yang dekat dan kerabat yang lain. Contoh matrilinela dan patrilineal

4

Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi

bahasan tentang unsur kebudayaan yang termasuk dalam peralatan hidup dan teknologi merupakan bahasan kebudayaan ࢆsik. (benda)

Contoh: alat-alat produktif, gerabah, senjata, makanan, minuman, dan obat tradisional.

5

Sistem Mata Pencaharian

cara mata pencaharian suatu kelompok masyarakat atau sistem perekonomian mereka untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

a. Berburu dan meramu, contohnya mengumpulkan umbi-umbian.

b. Beternak, contohnya memelihara ayam.

 c. Bercocok tanam, contohnya menanam padi di sawah.

d. Menangkap ikan, contohnya menangkap ikan di laut.

e. Menambang, contohnya menambang batu kapur.

f. Perajin, contohnya membuat keranjang dari rotan.

6

Sistem Religi

* kekuatan gaib atau supranatural dianggap lebih tinggi daripada manusia dan

* mengapa manusia itu melakukan berbagai cara untuk berkomunikasi dan mencari hubungan-hubungan dengan kekuatan-kekuatan supranatural tersebut.

7

Sistem Kesenian

etnografi :

tentang unsur seni

meneliti perkembangan seni

 Perbedaan budaya dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti sejarah, keturunan, keyakinan, dan interaksi.

 Selain itu, perbedaan disebabkan komunikasi dengan kebudayaan lain dan perkembangan teknologi, kondisi geografiss, seperti iklim dan lokasi.


Minggu, 30 Agustus 2026

TOKOH DAN PERANAN DALAM PERISTIWA RENGASDENGKLOK-PROKLAMASI DAN PENETAPAN PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA

 



No.

PERANAN

NAMA TOKOH

1

 

 

 

 

 

 

 

 

2

Peristiwa Rengasdengklok

 

 

 

 

 

 

 

 Proklamasi Kemerdekaan

1.    Ir. Soekarno

2.    Drs. Moh. Hatta

3.    Dr. Radjiman Wedyodiningrat

4.    Mr. Achmad Soebardjo

Disebut sebagai golongan  tua

 

5.    Sukarni

6.    Sutan Syahrir

7.    Wikana

Disebut sebagai golongan muda

 

Proklamator

1.    Ir. Soekarno

2.    Drs. Moh. Hatta

Perumusan Naskah Proklamasi

1.    Ir. Soekarno (menulis naskah konsep

2.    Drs. Moh. Hatta ( penyusun kalimat/teks

3.    Sayuti Melik (mengetik naskah resmi)

4.    Laksamana Muda Maeda (penyedia tempat)  

Upacara Pengibaran Bendera Pusaka, Pembacaan Naskah Proklamasi

1.    Ir. Soekarno ( Pembaca Naskah)

2.    Drs. Moh. Hatta (Pendamping)

3.    Latif Hendraningrat ( Pengibar Bendera)

4.    Soehoed (Pengibar Bendera )

5.    Fatmawati ( penjahit Bendera Pusaka)

 

Drs. Mohammad Hatta mengajak Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, Mr. Kasman Singodimedjo, dan Mr. Teuku Mohammad Hasan dari Sumatra melaksanakan suatu rapat pendahuluan.

Drs. Mohammad Hatta menyatakan, “Supaya kita jangan pecah sebagai bangsa, kami mufakat untuk menghilangkan bagian kalimat ... dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, dan menggantinya dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Sejarah kelahiran Pancasila didasarkan pada rangkaian peristiwa sejarah tokoh pendiri negara dalam sidang perumusan dan penetapan Pancasila sebagai dasar negara. Di dalam Konsiderans Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 dinyatakan bahwa rumusan Pancasila sejak kelahirannya tanggal 1 Juni 1945 yang disampaikan Ir. Sukarno, rumusannya dalam Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945 serta rumusan final pada tanggal 18 Agustus 1945 merupakan satu kesatuan proses lahirnya Pancasila. (hal. 33 )